Lelaki Muda Menemui Kayu Aneh di Tebing Curam, Setelah Diselidiki, Ternyata Benda Ini Bernilai Fantastik dan Sekelip Mata Dia Jadi Kaya Raya!

Yang pernah tinggal di pedesaan pasti tahu bahwa demi kelangsungan hidup, orang yang tinggal di desa akan bergantung dengan bekerja di gunung.

Hari ini ada seorang pria muda naik ke gunung untuk bekerja. Karena pria muda ini bekerja dekat dengan tebing yang curam, ia melihat kayu aneh yang menempel di pinggir tebing. Tapi, ia tidak tahu benda apakah itu.

Dan ia pernah mendengar bahwa jika seseorang menemukan kayu diatas gunung, artinya ia akan kaya. Akhirnya ia pun membawa pulang kayu untuk melihat apakah kayu ini berharga.

Pria muda ini pun turun untuk mengambil kayunya. Setelah diambil ia merasa kayu ini lebih berat dari kayu biasanya.

Keesokkan harinya, ia pergi menemui seorang kakek tertua di desanya. Begitu kakek lihat, langsung tahu benda apa itu. Tapi, ia tidak yakin jadi ia tidak berbicara apapun.

Ia menyuruh pria muda membawa kayu itu ke kota untuk meminta bantuan para ahli melihatnya. Pria muda itu pun membawa kayu itu ke kota, kemudian dikatakan bahwa nilai kayu itu sangat berharga, lebih berharga dari upah pria muda itu bekerja di gunung selama dua tahun.

Mendengar kata ini, pria muda itu sangat gembira!

Ternyata kayu itu adalah Thuja. Dulu di desa banyak orang yang mencarinya. Pria muda itu baru tahu bahwa kayu itu sangat berharga.

Jadi, ia diam-diam memutuskan untuk lebih memperhatikan benda ini disana. Jika dia bisa menemukan lebih banyak, maka ia bisa menjadi orang terkaya di desa!

Thuja adalah pohon cemara kipas. Pohon ini mempunyai ketinggian antara 20-50 kaki dan ditemukan di kawasan tebing bebatu yang sejuk.

Kayunya sangat tahan lama dan dapat digunakan untuk membuat pagar, tiang atau perahu. Biasanya orang akan memahat kayu ini menjadi ukiran yang indah.

Razak sudah kehilangan ibunya semenjak dia lahir. Ayah Razak akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu yang akhirnya menjadi ibu tiri Razak ketika Razak baru menginjak usia 5 tahun.

Razak sama sekali tidak boleh menerima kehadiran ibu tiri dan anaknya di dalam keluarganya sehingga dia tak mau mendengar perkataan ibu tirinya sama sekali.

Selama bertahun-bertahun, ayah dan ibu tiri Razak pun berusaha mencari wang untuk membesarkan Razak dan kakak tirinya. Namun ketika Razak berusia 10 tahun, kejadian malang ini pun terjadi secara tak terduga pada keluarga mereka.

Ayah Razak mengalami kecelakaan ketika dia pergi mengantarkan barang dengan menggunakan sepeda motor. Dia melanggar sebuah truk kerana dia membawa motor dengan kelajuan tinggi. Kerana kecelakaan yang dialaminya cukup parah, dia pun langsung meninggal di tempat.

Semenjak saat itu, ibu tiri Razak harus bekerja lebih keras untuk menghidupi kedua anaknya sehingga mereka boleh tetap bersekolah.

Setelah ayah Razak meninggal, hubungannya dengan si ibu tiri semakin memburuk. Dia sama sekali tidak mau mendengar perkataan ibu tirinya dan terus membangkang perkataannya walaupun si ibu tiri Razak selalu memperlakukannya dengan baik.

Kerana kelakuan Razak yang begitu nakal, akhirnya ibu tirinya pun selalu memarahinya setiap kali dia berbuat salah. Bahkan sang ibu tiri pernah memarahinya seperti ini, “Kamu itu benar-benar tak ada gunanya. Kamu itu pembawa sial. Lihat saja, ibumu mati waktu melahirkanmu, bahkan papamu sendiri juga mati kerana membesarkanmu. Kalau kamu tak mau sekolah, tak yah sekolah lagi. Kamu hanya menghabiskan duitku saja, dasar anak bodoh!”

Kerana perkataan kasar ibu tirinya inilah, Razak pun merasa tidak boleh menerima semua perkataan ibu tirinya tersebut dan mencuba untuk membuktikan kepada ibu tirinya kalau semua yang dikatakannya salah.

Semenjak saat itu, nilai Razak di sekolah pun semakin membaik setiap ujiannya. Dia pun sengaja membawa nilai ujiannya pulang ke rumah untuk menunjukkan kepada ibu tirinya bahwa dia juga boleh menjadi ranking pertama di kelas. Tapi ternyata, ibu tirinya malah memarahinya, “Begini aja kamu udah bangga? Nilai 100 aja kamu tak boleh dapat. Tak usah cepat-cepat bangga lah!”

Hal ini membuat Razak semakin geram dan berusaha untuk menunjukkan kepada ibu tirinya kalau dia boleh menjadi lebih baik dari sekarang. Dia pun belajar semakin giat sampai akhirnya dia boleh masuk ke sekolah SMA paling top di kotanya.

Dia pun membawa pulang surat penerimaan sekolah SMA yang dia dapat untuk ditunjukkan kepada ibu tirinya. Namun tak disangka, dia malah diusir dari rumah dan dimarahi habis-habolehn oleh ibu tirinya.

“Kamu masih berani bilang mau sekolah SMA?! Udah keluar aja kamu dari sini, ini nombor tel nenek dan pakcikmu, suruh mereka yang biayain kamu mulai sekarang. Masih untung aku mau menampungmu selama ini, sekarang kita udah tak ada hubungan apa-apa lagi. Pergi kamu!!”

Betapa terkejutnya Razak melihat reaksi ibu tirinya yang seperti itu. Dia pun merasa sangat sakit hati terhadap ibu tirinya dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tak akan pernah melupakan kejadian ini. Dia benci ibu tirinya seumur hidupnya!

Dia pun akhirnya menelepon nombor tersebut dan akhirnya tinggal di rumah nenek dan pakciknya. Razak pun akhirnya masuk ke sekolah SMA yang didapatinya semenjak itu.

Setahun kemudian, sebuah surat datang ke rumah pakcik Razak ditujukan kepada Razak. Razak pun terkejut ketika melihat pengirim surat itu ternyata dari ibu tirinya yang mengusir dirinya keluar setahun yang lalu.

“Razak, anakku yang kusayang. Mungkin ketika kamu membaca surat ini, mama sudah berada di surga bersama dengan papamu. Maafkan mama selama ini ya, nak. Mama tidak memperlakukanmu dengan baik kerana mama ingin kamu menjadi anak yang berhasil.

Mama sengaja melakukan semuanya itu supaya kamu termotivasi untuk menjadi lebih baik. Mama tahu cara mama salah, tapi hanya dengan inilah, kamu mau memacu dirimu untuk berkembang. Maafkan mama, sayang. Mama sangat sayang padamu, tapi mama tidak pernah boleh mengungkapkannya padamu kerana mama takut kamu jadi kembali seperti dulu yang tak mau mendengar perkataan mama.

Ketika mama menyuruhmu keluar dari rumah, hati mama sangat sakit, tapi mama harus melakukannya kerana mama tak ingin kamu tahu kalau mama terkena penyakit kanker usus stadium akhir. Mama tak ingin kamu sedih, tapi mama ingin kamu boleh tetap maju. Mama sayang kamu, nak.”

Setelah membaca surat ini, Razak pun menangis secara histeris dan langsung membeli tiket pulang ke rumah ibu tirinya. Dia langsung berlari menuju kuburan ibu tirinya dan menangis sekencang-kencangnya disana meminta ibu tirinya hidup kembali. Tapi semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah tidak boleh kembali seperti dulu lagi.